Kamu Belum Bisa Membahagiakan Orang Tuamu
Picture from: pinterest
19/04/2020
Pada usiamu saat ini, kamu masih belum bisa membahagiakan kedua orang tuamu. Dengan keseharianmu yang selalu diisi rutinitas tak berguna. Rutinitas yang hanya tentang dirimu sendiri. Rutinitas yang hanya berkutat pada gaya hidup dan trend dunia tanpa peduli keadaan mereka. Rutinitas yang terus menggila hingga lupa bahwa ada mereka yang selalu menunggumu pulang.
Kamu masih belum bisa menjadi anak yang benar-benar baik untuk mereka. Belum bisa memenuhi setiap panggilan mereka. Belum bisa benar-benar mengiyakan dengan ikhlas dan sempurna setiap nasehat serta pinta mereka. Belum bisa menyediakan kejutan-kejutan menakjubkan yang membuat mereka mengatakan, "Wah, anakku sudah dewasa ya". Belum bisa untuk setidaknya mengurangi beban ekonomi mereka dan malah semakin menggelantunginya dengan setiap gaya hidup dan angan-anganmu yang tak pernah berujung tepian. Bahkan untuk merapalkan doa tentang mereka pun, kamu tak jarang lupa. Padahal ketika ingat pun hanya terselip singkat sekali.
Hari ini kamu melihat ibumu menyiapkan makanan untukmu. Sedangkan kamu masih baru saja bangun dari tidurmu. Biasanya kamu tak akan peduli padanya, karena hatimu yang entah bagaimana memang sudah sekeras dan sedingin es batu, serta matamu yang memang sudah lebih buta dari orang yang benar-benar buta.
Namun hari ini ada yang berbeda dengan dirimu. Kamu mulai melihatnya dengan saksama. Hingga baru kamu sadari, bahwa wajahnya terlihat lelah. Tapi meski begitu, saat melihatmu ia masih saja mengulas senyum yang begitu tulus sembari berkata, "Makan dulu, Nak".
Biasanya kamu akan menjawab dengan tak acuh, "Nanti, Bu. Belum laper" sembari mencari ponselmu lalu meninggalkannya dan kembali berkutat dengan media sosial yang isinya selalu palsu. Tapi hari ini berbeda. Hari ini kamu mencoba menurutinya. Duduk di ruang makan lalu memakan masakannya. "Ibu juga ayo makan sini," katamu. Ibumu tersenyum, "iya" jawabnya. Lalu ia pergi ke dapur dan kembali dengan sepiring nasi. "Ibu kenapa ambil nasinya di dapur? Ini kan ada" tanyamu sembari menunjuk wadah nasi di meja makan yang masih penuh, hanya berkurang karena kamu pindahkan sedikit ke piringmu. "Itu buat kamu. Ibu makan nasi yang di belakang aja, sayang kalau dibuang" jawabnya yang seketika membuatmu terdiam. Bahkan setelah setiap ajakan makannya yang tak pernah kamu hargai, beliau masih terus menyediakan yang terbaik untukmu.
Sorenya, kamu melihat ayahmu baru pulang kerja. Biasanya kamu tak pernah peduli. Kamu terus-menerus tenggelam dalam layar ponsel dan kehidupan dunia mayamu.
Namun tidak. Hari ini kamu mencoba mengamati wajahnya dengan saksama. Terlihat kusut dan amat banyak gurat-gurat lelah yang terlukis disana. Lalu kamu geletakkan sebentar ponselmu. "Ayah udah pulang?", sambutmu sembari meraih tangan kanannya dan kamu cium singkat. Wajah itu tersenyum hangat dengan perlakuanmu. "Iya. Anak ayah udah makan?", tanyanya dan kamu pun mengangguk. Bahkan setelah banyak ketidakpedulianmu pada kerja kerasnya, beliau masih terus memastikan kecukupan untukmu.
Hari ini kamu sangat bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang begitu menyayangimu. Selanjutnya, mungkin kamu masih belum dan tidak akan pernah bisa menjadi anak yang benar-benar baik untuk mereka. Tapi setidaknya kamu akan berusaha terus menyayangi dan mencintai kedua orang tuamu, serta memuliakan mereka dengan perlakuan-perlakuanmu. Mungkin kamu tidak akan bisa menghilangkan beban mereka. Tapi setidaknya kamu akan terus berusaha membuat mereka bahagia serta memintakan yang terbaik untuk mereka pada Allah melalui doa-doa baikmu yang panjang.

Komentar
Posting Komentar