Kamu #DiRumahAja
Awalnya kamu kira situasi #dirumahaja karena pandemi ini akan baik-baik saja bagimu. Karena lagi pula kamu juga sudah terbiasa untuk selalu merasa sendiri meski sedang bersama-sama. Lalu apa bedanya saat kamu benar-benar harus sendiri secara fisik? Kamu hanya tinggal menciptakan senang dengan sendirimu. Itu tentu tidak sulit, kan?
Satu hari, dua hari, tiga hari, semua masih baik-baik saja. Masih seperti apa yang kamu pikirkan sebelumnya. Namun setelah beberapa minggu, semua terasa membosankan. Kamu benar-benar harus berusaha senang dengan banyak hal yang mengharuskanmu sendirian. Kamu mulai berpikir bahwa ini tetap saja berbeda dengan rasa sendiri yang kamu rasakan saat sedang bersama-sama. Setidaknya di saat seperti itu pura-puramu bisa satu detik membuatmu lupa bahwa kamu hanya pura-pura. Setidaknya di saat itu ada tawa dan canda yang bisa memaksamu untuk ikut serta. Sekarang semua itu harus dipaksa hilang. Sedangkan rasa senang yang kamu ciptakan untuk sendirimu itu tiba-tiba terasa lelah. Tiba-tiba terasa letih. Tiba -tiba terasa hambar dan malah lebih terasa pura pura dari pada sebelumnya.
Sementara tuntutan waktu yang senggang, membuat pikiranmu terus berkata "Ayo berjuang!". Sungguh melelahkan. Sungguh-sungguh menggilakan. Semua menuntut lebih dikerja-keraskan mumpung waktunya banyak. Tapi semua tak pernah habis. Dan itu benar benar melelahkan. Atau mungkin kamu merasa seperti itu karena kamu sendiri yang belum bisa membagi waktu, belum bisa mengatur waktu. Hingga di saat senggang pun ia terasa kebanyakan.
Lalu setelah keadaan ini mulai memasuki hitungan bulan, kamu mulai belajar. Mulai ikhlas dengan apa yang kamu rasakan. Mulai ikhlas pada kesendirian. Mulai ikhlas pada waktu yang tadi terasa kebanyakan. Kamu mulai secara tanpa sadar mengambil hikmah, bukan lagi hanya mencemooh dengan bosan. Bahwa mungkin ini tertanda dari Allah yang mengatakan pada kita untuk berhenti dulu. Untuk bernapas dulu. Untuk istirahat dulu. Karena kita mungkin sudah terlalu kelewatan. Karena kita mungkin sudah terlalu kebanyakan mengejar waktu yang sebenarnya selalu tentang keduniaan. Atau mungkin ini adalah mainan baru dari Allah yang sudah terlalu geram melihat kita berebutan. Kita mungkin sudah terlalu serakah hingga menciptakan tengkar untuk saling menjatuhkan agar bisa memiliki milik yang lainnya juga. Atau mungkin ini adalah sentilan Allah agar kita kembali melihat ke arah-Nya. Karena mungkin ini memang sudah waktunya agar kita kembali pulang. Agar kita kembali ke rumah. Karena kita mungkin memang sudah terlalu jauh main-mainnya.
Maka disini, kamu mencoba benar-benar berhenti dulu. Mengistirahatkan sejenak kaki yang sudah terus-menerus berlari dan otak yang sudah terus-menerus diperas habis-habisan. Melihat ke belakang dan merenung, sudah sampai sejauh mana jarak yang kamu capai. Atau sudah sampai sejauh mana kamu kelewatan. Kemudian melihat ke depan dan berpikir, mimpi apa yang benar-benar ingin kamu capai. Cerita yang mana yang benar-benar ingin kamu tata ulang kembali. Dan jati diri seperti apa yang benar-benar ingin kamu pasang pada ragamu.
Sebelum suatu hari nanti semua ini selesai. Sebelum suatu hari nanti akhirnya Allah berkata, "Kamu sudah siap. Ayo berdiri lagi! Ayo berjuang lagi!"

Komentar
Posting Komentar