Kamu Masih Belum Dewasa
20/04/2020
Pada usiamu yang sekarang ini, kamu masih sering atau bahkan selalu bersikap kekanak-kanakan. Dengan pola pikir yang selalu menggampangkan segala sesuatu dan mentidak-pedulikan detail-detail kehidupan. Kamu masih selalu egois dengan membicarakan dirimu sendiri pada setiap perbincanganmu bersama siapa pun. Hingga mereka mungkin bosan dengan topik kalian yang selalu tentang keluhan-keluhan darimu tentang hidup. Atau mungkin mereka juga merasa kesal dengan permasalahan-permasalahan kalian yang selalu kamu bercandakan.
Tapi sebenarnya, kamu selalu suka mendengar siapa pun bercerita. Kamu selalu suka saat siapa pun, entah dengan terpaksa karena sudah tidak ada yang mau mendengar cerita mereka atau dengan sukarela menceritakan masalah-masalah mereka padamu. Kamu selalu suka saat siapa pun meminta pendapatmu secara personal. Lalu saat itu ada saatnya, kamu dengan menggebu-gebu dan percaya diri akan mengutarakan saran, kritik, dan pendapat-pendapat dari sudut pandangmu. Namun tanpa sadar ujung-ujungnya kamu selalu akan menceritakan ceritamu lagi dan lagi. Cerita-ceritamu yang kamu sambung-sambungkan temanya dengan cerita mereka. Padahal kamu sendiri tidak tahu, apakah itu bisa benar-benar terasa sesuai atau tidak dengan mereka. Kamu selalu abai dan tidak pernah memikirkannya.
Atau mungkin kalau tidak begitu, kamu akan berkata bahwa, "Ih sama! Aku juga pernah ngalamin kayak gitu. Dan menurutku itu wajar dan gakpapa kok. Pelan-pelan. Lama-lama juga semuanya lewat sendiri. Dibawa santai aja." Tapi terkadang kamu tidak menyadari bahwa saat kamu mengatakannya, mereka justru merasa tidak dihargai. Mereka merasa ditolak. Padahal kamu melakukan itu karena kamu sedang tak punya apa pun untuk dibagikan selain semangat dibawa-santai-aja itu.
Kamu tahu bahwa kamu masih belum dewasa. Tapi kamu selalu berusaha menjadi dewasa. Kemudian tak jarang, kamu beranggapan bahwa ketidak-dewasaanmu adalah pola pikir yang paling tepat untuk menghadapi suatu masalah. Yaitu dengan menggampangkan semua hal, membercandakan semua hal.
Yah, manusia memang selalu menyangkali kelemahannya, dan kamu pun juga begitu. Lalu dengan bodo amat, kamu justru membagikan pemikiranmu pada semua orang. Berlagak sok dewasa dengan pola pikir dan semangat dibawa-santai-aja milikmu tadi. Berharap mereka semua bisa mengambil sesuatu dari apa yang kamu bagikan. Meski hanya secuil pelajaran. Meski hanya sepotong kata gak papa. Atau meski hanya sepenggal lupa. Karena menurutmu, terkadang lupa adalah penyelesaian masalah paling baik daripada berusaha mengambil pelajaran namun yang didapat tak lebih dari sekedar penyesalan.
Menjadi dewasa memang tidak pernah mudah. Tapi tidak dewasa bukan berarti tidak bisa melewati masalah. Pun sebenarnya menjadi dewasa adalah menjadi tahu kapan saat yang tepat untuk menjadi dewasa dan kapan saat yang tepat untuk menjadi tidak dewasa. Karena hidup adalah petualangan penuh kombinasi dan varian rasa. Ada masalah yang memang harus dicari solusinya. Namun lebih banyak lagi masalah yang sepertinya memang diciptakan hanya untuk ada masalahnya saja, tanpa solusinya. Ada banyak masalah yang memang cuma bisa diikhlaskan dan diakhiri dengan "Ya sudahlah. Mau diapain lagi?!". Maka di saat itulah, lupa memang benar-benar menjadi lebih bermanfaat untuk kita yang selalu diajari ingat.

Komentar
Posting Komentar