Kamu Tak Bisa Menyapa

Picture from: pinterest

17/04/2020

Kamu tak bisa menyapa saat bertemu dengan mereka yang kamu kenal namun tak dekat. Entahlah, tapi mungkin kamu terlalu takut untuk diabaikan. Kamu terlalu takut untuk tersenyum sendirian.

Terlalu banyak pertimbangan yang ada dalam otakmu saat sedang harus menyapa. Entah itu apakah mereka akan membalas dengan setidaknya tersenyum balik. Kalimat seperti apa yang baik untuk kamu lontarkan dalam sapaanmu. Dan apakah mereka akan suka saat kamu berlagak akrab dalam sedetik yang padahal detik berikutnya kalian akan sama-sama berlalu. Semuanya bergelut hingga detik kesempatannya berlalu dan kamu berakhir dengan hanya bisa berjalan menatap lurus, berlagak tidak melihat mereka dan asyik fokus pada jalanmu sendiri.

Kamu hanya tak bisa memulai. Tapi kamu juga merasa bahwa kamu harus mencoba memulai. Karena tak selamanya dunia bergerak dengan mempertimbangkan pertimbangan yang sama denganmu. Kamu ingin menyapa. Untuk setidaknya membuat mereka tersenyum walau hanya sebuah pencitraan tak lebih dari satu detik. Untuk setidaknya mengatasi rasa takutmu akan dibilang sombong. Untuk setidaknya berusaha hidup beradaptasi dengan menjadi ramah walau entah akan benar-benar bisa atau hanya jadi formalitas belaka.

Kamu juga tak bisa menyapa saat bertemu mereka yang sudah lama tak jumpa. Padahal ada banyak kata rindu yang berjubel dan begitu ingin kamu keluarkan. Tapi kamu tak pernah tahu bagaimana cara mengungkapkan. Hingga akhirnya yang keluar hanya kata "hei" dan senyum singkat yang kamu sendiri merasa bahwa itu terlalu formalitas. Terlalu pencitraan. Lalu setelahnya kamu bisa melihat wajah mereka dengan ekspresi kecewa dan seakan berpikir bahwa kamu sudah lupa. Mereka tidak pernah tahu bahwa kamu juga ingin menyapa mereka dengan heboh dan penuh ceria. Bertanya apa kabar dan saling bercerita tentang hidup selama tak bersama. Atau setidaknya menciptakan kesan bahwa kamu senang sekali bertemu dengannya. Tapi kamu hanya tidak bisa. Kamu hanya tidak pernah tahu bagaimana caranya.

Setelah momen-momen pertemuan singkat yang seharusnya menimbulkan kesan akrab namun justru menjadi keasingan penuh kecanggungan formalitas itu, kamu selalu merasa bersalah. Kamu selalu merasa kecewa pada dirimu sendiri.

Hingga suatu hari seseorang berkata padamu, bahwa itu hanya sebuah pilihan. Yang satu mungkin lebih baik dari pada yang lain. Tapi saat kamu tidak bisa memilihnya karena ganjalan atau kebimbangan dalam hatimu, maka cukup ikhlaskan saja. Jangan disesali. Karena seberapapun kamu menyesal, yang lalu tetap akan seperti itu. Kamu hanya perlu sadar bahwa itu adalah pilihan. Untuk ke depannya kamu memang harus belajar memilih yang terbaik. Tapi saat kamu merasa tetap tidak bisa, maka cukup berdamailah dengan hatimu.

Deal with it and everything will be allright.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tunawisma yang Sedang Mencari Rumahnya

Dendam yang Manis

Bukan Review Makanan