Kamu Perempuan, dan Kamu Punya Cita-Cita

Picture from: Pinterest

5/5/2020

Sebagai seorang perempuan, kata orang, kamu terlalu banyak bermimpi tentang masa depan. Cita-citamu terlalu tinggi. Kamu terlalu muluk-muluk merencanakan semua dalam angan-anganmu.

Tentang cita-citamu untuk kuliah setinggi mungkin. Namun mereka bilang, itu sama sekali gak berguna. Mereka bilang, cita-citamu itu adalah hal yang sia-sia. Buat apa kuliah tinggi-tinggi? Bukankah tugas seorang perempuan nantinya cuma bekerja di rumah? Buat apa capek kuliah tinggi-tinggi? Perempuan, kan tugasnya cuma 3m; masak (memasak), macak (berdandan), manak (melahirkan anak). Terima kodrat aja lah.

Ada banyak sekali perspektif masyarakat yang melemahkan peran perempuan. Lebih ironisnya lagi, semua perspektif itu juga digelegarkan oleh para perempuan sendiri. Entah apa maksudnya...

Setelah mendengar komentar-komentar yang mereka sebut sebagai nasehat itu, tekadmu untuk menggapai cita-cita seketika menciut. Kamu jadi merasa pesimis dengan semua cita-citamu itu.

Bahkan kamu menjadi overthinking dengan masa depanmu. Bukan lagi cuma tentang cita-citamu untuk kuliah setinggi mungkin, tapi juga tentang karir dan profesi yang ingin kamu jalankan setelah kuliah nanti. Kamu berpikir tentang apakah kamu bisa menjalankan karir dan profesi tersebut di tengah segala tuntutan pekerjaan mengurus rumah tangga, yang memang sudah menjadi kewajiban bagi seorang perempuan. Apakah kamu akan bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu nanti di saat ada tuntutan pekerjaan lain yang juga harus kamu selesaikan secara profesional? Apakah kamu akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu sekaligus mendidik mereka menjadi anak yang baik di tengah kesibukan karir yang harus kamu bangun? Semua pertanyaan itu membuatmu meragukan dirimu sendiri.

Belum lagi tentang semua tradisi di masyarakat yang memuat banyak sekali aturan dan larangan yang harus dipatuhi oleh perempuan yang masih gadis. Dengan semua kekhawatiran yang katanya untuk melindungi namun justru seakan membelenggu perempuan dengan borgol di tangan dan kakinya. Sebagai perempuan, kamu seakan dikurung dalam sebuah sangkar yang menjelma sebagai bentuk kepedulian.

Mungkin di luar sana banyak perempuan yang baik-baik saja untuk menuruti semua itu. Menelan semua kodrat dan tradisi itu. Entah mereka sekedar menghargai atau memang tahu  dan sadar bahwa itu adalah hal yang baik untuk mereka. Atau yang celaka adalah mereka yang tidak sadar dan tidak mau sadar bahwa semua hal itu mengurung mereka dalam zona yang terlanjur terasa nyaman.

Namun sayangnya (atau malah beruntungnya), kamu bukan mereka. Kamu bukan perempuan yang rela hanya berperan untuk melakukan 3m; masak, macak, dan manak saja. Kamu bukan perempuan yang rela mengorbankan mimpi-mimpimu untuk berperan lebih besar hanya demi menghargai nasehat-nasehat yang sebenarnya malah melemahkan mental dan kepercayaanmu pada dirimu sendiri. Kamu bukan perempuan yang rela dikurung dalam ruang sempit bernama zona nyaman dengan dinding tebal yang berkata bahwa ini semua demi kebaikanmu. Kamu bukan perempuan yang rela jiwa dan pikirannya dipasung dengan kodrat-kodratnya dalam masyarakat.

Kamu adalah perempuan yang bisa dan akan memilih untuk berperan lebih dari kodrat-kodrat itu. Mungkin tidak ada yang bisa menjamin bahwa kamu akan berhasil. Tapi bagaimana pun dan apapun yang terjadi nanti, kamu lebih dari siap dengan segala keyakinan serta tekad yang kuat dalam hatimu.

Semangat ;))

Komentar

  1. Syukaa😍 karena perempuan juga sama dengan laki² tidak ada bedanya, sama² punya hak bercita² untuk kebahagiaan diri sendiri & bermanfaat bagi orang lain. Semangat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tunawisma yang Sedang Mencari Rumahnya

Dendam yang Manis

Bukan Review Makanan