Saya Tahu, Saya yang Salah

Picture from: Pinterest

18/6/2020

Pernah gak sih kalian ketemu sama seseorang, yang sebenarnya dia gak salah apa-apa, tapi kalian benciii banget sama dia. Aneh, ya?

Nah, sekarang saya lagi ngerasain hal itu.

Ketemunya udah lama. Udah hampir 3 tahun yang lalu. Awalnya saya kagum. Tapi makin lama, saya makin kenal, dan... Dan saya jadi benci. Saya ga tahu saya benci apa dan kenapa.

Sampai kemudian, saya makin mudah buat nyebutin kelebihan-kelebihan dia dalam hati saya. Tapi yang keluar dan saya koar-koarkan dalam pikiran saya justru adalah kekurangan-kekurangan dia. Keburukan-keburukan dia.

Dari situ, saya jadi sadar. Saya gak benci dia. Tapi saya benci sama perasaan yang selalu timbul kalau saya ingat dia. Saya benci saat sering sekali muncul pertanyaan dalam kepala saya, kenapa saya gak bisa jadi kayak dia?!

Semua yang saya mau ada dalam diri saya, tuh, ada dalam diri dia.

Saya yang suka logika dan pola pikir rasional. Yang semula bikin saya kagum ke dia karena dia bisa punya itu lebih baik dari saya.
Sampai celah itu datang. Saya tahu apa yang salah dari kelebihan itu. Lalu dari sana, saya mulai menanamkan bahwa kepalanya bisa hebat, tapi hatinya ternyata keparat.
Padahal saat itu, itu cuma kesimpulan semena-mena daya sendiri. Saya ga pernah tahu, dan ga pernah mau tahu kenyataannya gimana.

Seiring waktu berjalan, kelebihan lain darinya kembali membuat dia ada di permukaan kepala saya. Dia yang ternyata bisa berbahasa sangat baik. Sesuatu yang tidak saya punya tapi juga begitu ingin saya punya.
Lagi-lagi pertanyaan itu muncul. Kenapa sih saya gak bisa seperti dia?!?

Di titik itu, saya masih bisa mencoba buat terima. Baik. Tidak masalah. Kami berbeda. Dan saya juga tidak harus menyamainya, bukan?

Namun kemudian ada tapinya lagi. Saya, yang punya hobi menulis sejak saya kecil, tahu kalau ternyata dia bisa melaksanakan hobi saya dengan jauh lebih baik. Bahkan tanpa dia benar-benar suka.

Waktu itu, saya pertama kali baca tulisan dia di sebuah postingan yang dia unggah. Sebuah cerita. Singkat. Tidak sampai satu halaman. Hanya tiga perempat barang kali. Tapi cerita itu benar-benar bisa memuat banyak sekali kata tanpa dituliskan banyak-banyak. Cerita dengan alur berantakan yang ajaibnya berhasil membawa emosi juga cukup berantakan. Dan tulisan seperti itu, cerita seperti itu adalah tulisan cerita yang ingin sekali saya bisa buat. Tapi yang benar-benar bisa buat itu dia.

Cukup gila waktu itu saya.
Manusia macam apa sih sebenarnya dia? Gimana bisa dia melakukan banyak hal dengan sangat baik?
Dan yang lebih buat saya kesal adalah banyak hal itu merupakan banyak hal yang saya suka, yang saya sangat amat ingin bisa.

Lalu saya jadi benci dia. Lebih bukan kepada dirinya. Karena sebenarnya, dia tidak ada salah apa-apa.
Seperti yang saya bilang sebelumnya. Saya benci kepada perasaan saya sendiri. Kepada perasaan saya yang terus meneriaki saya kalau disini itu yang salah dan paling salah cuman ego saya. Ego saya yang salah. Ego saya yang ternyata terus lari kencang sekencang-kencangnya gak peduli sama apapun. Padahal saya tahu kalau di depan sana ada dinding kokoh tebal dan saya punya remnya. Tapi saya gak berhenti. Dengan bodohnya saya lebih memilih menabrak dinding itu dan hancur sendirian.

Lalu saya nyalahin dia cuma karena dia ga mau bantu. Padahal itu hak dia. Lagipula gimana dia bisa bantu, coba? Kalau dianya aja gak tahu. Dan saya juga sama sekali ga bilang apalagi teriak minta tolong.

Semuanya memang benar-benar cuman salah saya.

Tapi biarin. Saya ga mau menyerah. Saya juga ga ingin lupa. Saya mau belajar. Dari kebencian ini. Dari dia.
Supaya saya bisa sampai ke tempat yang saya mau. Dan sekarang bukan lagi karena ingin mendahului dia. Tapi lebih dan hanya karena... Saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tunawisma yang Sedang Mencari Rumahnya

Dendam yang Manis

Bukan Review Makanan