Just

 


Picture from: Galeri Pribadi



2 Agustus 2022 5:25 PM

Jatuh cinta adalah hal yang tak teratur. Bukan heksagonal yang hanya punya enam sisi. Terkesan indah, sederhana, tapi juga rumit dalam waktu yang sama. Mungkin lebih seperti bentuk kristal salju. Sama-sama segi enam tapi lebih rumit karena cabangnya ada banyak.

Kita pasti pernah berpikir bahwa kita jatuh cinta. Pada orang yang tepat pula rasanya. Terus berpikir bahwa kita jatuh.

Aku pernah. Pernah jatuh. Tak peduli dia jauh dan berapa lama kita tidak pernah bertemu.

Tapi seperti kristal salju, ada cabang kecil dari sebuah cabang. Dan itu adalah keraguan. Sepercaya apapun hati bahwa dia adalah orang yang tepat, kadang ada pertanyaan kecil. Apa dia? Apa benar dia yang aku cari? Atau… is it because I never searched for it?

Aku bahkan masih ingat kapan aku pertama kali merasa bahwa I fell for him.

Tanggal 13 November 2012 waktu jam pelajaran matematika. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Anak SD yang selalu kena bully karena badannya paling kecil, lemah, polos, dan penakut. Untungnya otakku agak encer soal pelajaran. Tapi ternyata justru itu masalahnya.

Pak Widodo, wali kelasku, memberikan tugas untuk kami kerjakan selama beliau mengurus sesuatu di ruang guru. Kami sekelas pun mengerjakannya. Beberapa kebingungan. Sampai kemudian ada satu anak laki-laki yang mengambil bukuku.

“Si juara satu pasti udah nih” ucapnya sambil mengangkat tinggi bukuku. Anak laki-laki itu membawa bukuku dan menyalin pekerjaanku bersama teman-temannya.

“Ih, balikin bukuku!”. Aku mencoba merebut bukuku. Berlarian ke sana ke mari, dipermainkan di dalam kelas.

“Ih, bilikin bikiki” tiru anak laki-laki itu untuk mengejekku.

“Heh! Kalian ngapain?! Balikin bukunya Nisa!” Di tengah isak tangisku saat aku berlari mengejar anak laki-laki dan teman-temannya yang membawa bukuku, tiba-tiba ada teriakan Pak Widodo. Aku menoleh dan dia ada di sana bersama Pak Widodo.

Saat itu, aku benar-benar melihatnya seperti sesosok pahlawan. Dia memanggil Pak Widodo ke ruang guru dan melaporkan segerombolan anak laki-laki yang merebut bukuku.

Kejadian yang klise. Begitulah aku jatuh padanya. Mulai memperhatikannya. Menyukainya. Melihatnya tampan dengan karakter yang begitu sempurna.

Dia pribadi yang periang, cerdas, friendly, easy going, dan disukai semua orang. Kami berebut juara satu di setiap penghujung semester. Tapi dia lebih pintar dibanding aku. Jelas. Ditambah dengan sifat ramah dan supelnya. Sesempurna itu aku melihatnya.

Dan sepertinya bukan hanya aku yang melihatnya seperti itu. Anak-anak perempuan di kelasku waktu itu juga menyukainya.

Lalu suatu hari ada berita yang tersebar bahwa ada anak perempuan dari sekolah lain yang juga menyukainya. Anak perempuan itu bahkan mengiriminya surat dan coklat. Dia menanggapinya hanya ala kadarnya, seakan tidak ada yang serius tentang itu.

Tapi dua hari setelah dia menerima surat itu, dia menyendiri seharian. Untuk aku yang selalu melihatnya sebagai sosok yang ceria, itu adalah pemandangan aneh. Selama sehari itu, dia tidak bergabung untuk bermain dengan teman-temannya.

Saat aku dan anak-anak sekelas bermain di jungkat-jungkit, dia duduk sendirian di ayunan dengan tatapan kosong.

Tapi aku memilih meninggalkannya. Setelah hampir 2 tahun terhanyut dalam perasaanku, aku memilih untuk melepaskan diri dari keterikatanku pada sosoknya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tunawisma yang Sedang Mencari Rumahnya

Dendam yang Manis

Bukan Review Makanan